Selamat Idul Adha 1433 H

Hari ini umat Islam merayakan Idul Adha 1433 Hijriyah. Idul Adha adalah hari besar umat Islam setelah Idul Fitri dan sering juga disebut sebagai Hari Raya Haji atau Hari Raya Kurban. Disebut Hari Raya Haji karena Idul Adha bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji yang merupakan rukun Islam kelima. Disebut Hari Raya Kurban karena pada hari ini hingga 3 hari ke depan umat Islam melaksanakan pemotongan hewan kurban seperti sapi, domba, dan kambing, untuk dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Idul Adha tidak dapat dipisahkan dari kisah-kisah Nabi Ibrahim AS, bersama anaknya Nabi Ismail AS, dan istrinya Siti Hajar.

Dalam sebuah perjalanan ketika Nabi Ismail AS masih bayi, dikarenakan perintah dari Allah SWT, Nabi Ibrahim AS meninggalkan Siti Hajar dan Ismail kecil di sebuah lembah di tengah-tengah padang pasir Makkah. Tidak ada pohon berkayu di lembah tersebut dan tidak juga terdapat sumber air. Ketika perbekalan makanan sudah habis, Siti Hajar bingung bukan kepalang. Ismail yang masih kecil terus menangis karena kehausan. Air susu Siti Hajar pun sudah tak keluar lagi. Dalam kebingungan tersebut, Siti Hajar seperti melihat sumber air di kejauhan. Dia berlari menuju tempat tersebut. Ketika sampai, ternyata itu hanya fatamorgana. Dari tempat tersebut, Siti Hajar juga seperti melihat sumber air di dekat Ismail berada. Ketika kembali kesana, ternyata juga fatamorgana. Begitulah Siti Hajar berlari bolak balik di antara dua bukit yang mengapit lembah tersebut untuk menemukan sumber air. Tak terasa sudah tujuh kali dia bolak-balik dan hanya menemukan fatamorgana. Sementara Ismail yang kehausan terus menghentak-hentakkan kakinya ke bumi. Dan ajaib, dengan kehendak Allah SWT, dari tempat dimana Ismail menghentak-hentakkan kakinya terpancarlah mata air. Siti Hajar gembira bukan kepalang. Dia berkata, “zami.. zami.. zami..”, yang artinya, “berkumpullah.. berkumpullah.. berkumpullah..”. Seolah dia berkata kepada mata air tersebut agar berkumpul untuk anaknya.

Dua bukit dimana Siti Hajar telah berlari bolak-balik tersebut bernama Bukit Shafa dan Bukit Marwah. Saat ini, dalam rangkaian ibadah haji terdapat salah satu rangkaian ibadah wajib yang disebut sa’i. Sa’i adalah berlari-lari kecil di antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah sebanyak tujuh kali dengan niat ibadah. Prosesi ini adalah napak tilas perjuangan Siti Hajar. Dan air yang muncul dari tempat Nabi Ismail menghentak-hentakkan kakinya tersebut sekarang bernama air zam-zam. Biasanya jamaah haji membawa air ini pulang ke kampung halaman sebagai oleh-oleh.

Ismail adalah anak kesayangan Nabi Ibrahim AS dan telah ditunggu-tunggu kelahirannya sejak lama oleh Nabi Ibrahim AS. Tak terlukiskan betapa cinta Nabi Ibrahim AS kepada Ismail. Namun, ketika Ismail beranjak remaja, sebuah perintah Allah SWT datang untuk mengorbankan atau menyembelih Ismail. Demi mentaati perintah Allah SWT, Nabi Ibrahim mantap akan mengorbankan Ismail. Hebatnya, ketika perintah Allah tersebut disampaikan kepada Ismail oleh Nabi Ibrahim, Ismail menjawab mantap, “‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada kamu. Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Dan ketika syaitan mendatangi Siti Hajar mengabarkan bahwa Nabi Ibrahim akan mengorbankan Ismail, Siti Hajar menyatakan bahwa jika memang itu adalah perintah Allah, maka dia ikhlas. Dan ketika terakhir kalinya syaitan mencoba menggoda Ismail, Ismail melempar syaitan tersebut dengan batu. Sebuah wujud ketaatan yang luar biasa tinggi kepada Allah SWT dari sebuah keluarga kecil. Perbuatan Ismail melempar syaitan tersebut sekarang dalam rangkaian ibadah haji dikenal sebagai melempar jumrah.

Ketika datang saat penyembelihan Ismail, saat pisau sudah akan menebas leher Ismail, Allah menggantikan posisi Ismail dengan kambing kibas yang dibawa oleh malaikat Jibril. Malaikat Jibril berseru takjub akan ketaatan Nabi Ibrahim, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar“. Seruan ini dibalas oleh Nabi Ibrahim, “La ilaaha illallaahu Allahu Akbar“. Dan disambut oleh Ismail, “Allahu akbar wa lillahil hamdu“. Seruan-seruan tersebutlah yang selalu dikumandangkan oleh umat Islam ketika Hari Raya Idul Adha tiba.

Demikianlah, hingga akhirnya Allah SWT menyuruh umat Islam melaksanakan ibadah haji dan menyembelih hewan kurban untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan pada bulan Dzulhijjah ini. Ibadah kurban juga dapat dikatakan sebagai ibadah sosial karena dapat membantu orang-orang yang kekurangan yang selama hidupnya mungkin jarang makan daging. Pada dasarnya, Islam is the best way of life, Islam adalah cara hidup yang terbaik. Jangan nilai Islam hanya dari sikap & sifat pemeluknya. Karena manusia biasa bukanlah reference terbaik untuk sebuah ajaran suci. Akseslah sumber utamanya yaitu Al Quran & Hadist, maka Anda akan melihat seperti apa Islam sesungguhnya.

Bagi saya, lebaran Idul Adha kali ini adalah kali kedelapan saya berlebaran di rantau orang secara berturut-turut. Terakhir kali saya berlebaran Idul Adha bersama keluarga di kampung halaman yaitu pada tahun 2004. Sedangkan untuk lebaran Idul Fitri, baru sekali saya berlebaran di rantau orang, untuk yang satu ini saya selalu mengusahakan untuk pulang ke kampung halaman. Dan pagi ini sepulang dari sholat Id, Ibu Kos mengantarkan senampan makanan ke kamar saya.

Sarapan Idul Adha 1433 H

Sarapan Idul Adha 1433 H

Semoga Allah melimpahkan rahmat & karunia-Nya kepada Ibu yang baik hati ini. Saya telah kos di rumah beliau ini sejak 2 tahun lalu ketika saya hendak melanjutkan studi saya ke S2 Geothermal di kota ini.

Tuliskan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s